/HK Belum Berencana Menggunakan Aspal Plastik Untuk Infrastruktur Jalan

HK Belum Berencana Menggunakan Aspal Plastik Untuk Infrastruktur Jalan

Jakarta – Untuk mengurangi limbah plastik, Balai Pusat Jalan dan Jembatan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat membuat inovasi teknologi aspal yang berbahan dasar kantong plastik pada 2018 lalu. Limbah plastik yang digunakan memiliki ukuran sekitar 4,75 milimeter dengan tebal maksimum 70 mikron.

Namun, PT Hutama Karya menyatakan belum memiliki rencana untuk menggunakan inovasi teknologi tersebut dalam pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). 

Tjahjo Purnomo selaku EVP Sekretaris Perusahaan Hutama Karya menyampaikan penerapan teknologi aspal plastik merupakan upaya pemerintah dalam mengurangi limbah kantong plastik. Perseroan mendukung inovasi tersebut, akan tetapi pihaknya belum menerapkan teknologi tersebut dalam proses pembangunan JTTS, karena proses perencanaan dan pembangunannya memiliki standar khusus tersendiri. 

Menurutnya, penggunaan aspal plastik memiliki tingkatan perkerasan yang baik, dan juga aspal plastik tidak mudah meninggalkan jejak roda. 

Pencampuran bahan plastik sebesar 5% pada agregat panas terbukti meningkatkan stabilitas menjadi 1.428 kilogram dab Marshal Quotient menjadi 401.9 kilogram per millimeter. Yang artinya, dengan menambahkan limbah plastik sebesar 5% pada aspal akan meningkatkan stabilitas dan kekuatan jalan hingga 40%. 

Akan tetapi, menurut Direktur Bina Teknik Jalan dan Jembatan Kementerian PUPR Nyoman Suayarna menilai penggunaan aspal plastik dari sampah plastik memiliki risiko retak yang tinggi. Hal itu disebabkan oleh karakteristik produksi kantong plastik yang berbahan baku plastik daur ulang. Dan akan menimbulkan risiko homogenitas pada sampah plastik cukup tinggi.

“Secara prinsip bisa dipakai. Spesifikasi [penggunaannya] sudah ada, kontraknya ada, teknologinya siap. Tapi, ini sekali lagi isunya lingkungan, bukan untuk memperkuat jalan,” tuturnya. 

Nyoman menyatakan pihaknya telah berinovasi untuk memperkuat jalan nasional menggunakan plastik. Secara spesifik, Nyoman telah mencampurkan polimer berupa plastomer sintetis pada aspal, yakni styrene butadiene styrene (SBS).