/Hutama Karya Mendapat PMN Paling Besar Untuk Penugasan Pembangunan Tol Trans Sumatera

Hutama Karya Mendapat PMN Paling Besar Untuk Penugasan Pembangunan Tol Trans Sumatera

Jakarta – Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengusulkan penanaman modal negara (PMN) bagi 12 perusahaan BUMN untuk tahun 2022 senilai Rp 72 Triliun. PT Hutama Karya mendapat dukungan paling besar untuk penugasan pembangunan tol Trans Sumatera (JTTS). 

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo menyampaikan PMN tersebut penting untuk Hutama Karya karena perseroan tidak mendapatkan suntikan dan pada tahun 2017-2018 yang akhirnya membuat kondisi keuangan perseroan tergolong tidak sehat, dan membutuhkan dana tambahan sekitar Rp 68 triliun untuk menyelesaikan pembangunan Trans Sumatera.

Hutama Karya akan mendapatkan total suntikan dana pada tahun ini senilai Rp 25 triliun. Kemudian akan disalurkan kembali PMN senilai Rp 31,35 triliun pada 2022, dan Rp 11,5 triliun pada 2023. 

“Kondisi aset dan utang Hutama Karya meningkat tajam akibat penugasan konstruksi tol Trans Sumatera (JTTS), namun ekuitas tidak mengejar. Untuk menyelesaikan konstruksi tahap awal dan sebesar Rp 68 triliun akan diberikan bertahap,” jelas Kartika dalam rapat bersama Komisi VI DPR, Kamis (8/7).

Pada awal tahun 2021, sebelumnya Hutama Karya telah mendapatkan PMN senilai sekitar Rp 6 triliun. Maka dari itu, Kartika menyampaikan, Kementerian Keuangan telah berkomitmen untuk kembali menyuntikan dana PMN untuk Hutama Karya senilai Rp 19 triliun untuk paruh kedua 2021. 

Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Tjahjo Purnomo mengatakan bahwa pihaknya telah mengajukan PMN kedua pada tahun ini kepada pemerintah yang ditujukan untuk konstruksi maupun pengoperasian setidaknya pada sembilan ruas tol Trans Sumatera (JTTS).

Tjahjo menjelaskan bahwa PMN yang diajukan tersebut akan digunakan untuk dua kegiatan, yaitu untuk pengoperasian dan konstruksi. Terdapat tiga ruas tol yang akan memperoleh manfaat PMN tersebut dalam kegiatan konstruksi, diantaranya adalah tol Medan-Binjai, Palembang-Indralaya, dan Pekanbaru-Dumai. 

PMN ini juga dinilai akan membantu pengoperasian enam ruas tol Trans Sumatera, yaitu ruas Binjai-Langsa, Indralaya-Muara Enim, Kisaran-Indrapura, Kuala Tanjung-Parapat, Sigli-Banda Aceh, dan Pangkalan-Pekanbaru.

Kemudian Tjahjo juga menyampaikan PMN yang diajukan untuk paruh kedua tahun ini, akan digunakan untuk membantu pengerjaan detail engineering design (DED) backbone lanjutan JTTS. Kabarnya Hutama Karya masih harus membangun enam ruas backbone JTTS hingga tahun 2024.

Keenam ruas tol tersebut dibagi dalam konstruksi Tahap II dan Tahap III. Jalan tol backbone yang masuk dalam Tahap II, diantaranya adalah Betung-Tempino-Jambi sepanjang 169 kilometer, Jambi-Rengat sepanjang 198 kilometer, dan Rengat-Pekanbaru sepanjang 207 kilometer. 

Sedangkan yang masuk ke dalam konstruksi Tahap III, diantaranya adalah Dumai-Rantau Prapat sepanjang 181 kilometer, Rantau Prapat-Kisaran sepanjang 112 kilometer, Langsa-Lhokseumawe sepanjang 134 kilometer, Lhokseumawe-Sigli sepanjang 157 kilometer, dan Pangkalan Brandan-Langsa sepanjang 658 kilometer.