//Arvilla Delitriana: Srikandi Perancang Jembatan Lengkung Terpanjang

Arvilla Delitriana: Srikandi Perancang Jembatan Lengkung Terpanjang

Salah satu bagian tersulit konstruksi jalur LRT Jabodebek, pekerjaan jembatan bentang panjang yang melengkung 148 m di atas flyover Kuningan, Jaksel, sudah tersambung. Selamat kepada Adhi Karya. Selamat juga untuk sang perancang, Ibu Arvilla Delitriana,  , insinyur lulusan ITB,” tulis Presiden Jokowi pada akun media sosial pribadinya @jokowi.

Unggahan tersebut berisi apresiasi yang menyasar nama Avrila Delitriana, srikandi konstruksi Indonesia. Tidak main-main, insinyur lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini menjadi sorotan media berkat pencapaiannya yang sukses dalam perencanaan pengerjaan jembatan kereta lengkung di atas flyover Kuningan dengan panjang 148 meter, bertipe box girder beton dengan radius lengkung 115 meter. Siapa sosok Arvila Delitriana sebenarnya?

Ia akrab dengan nama sapaan Dina. Sebelum berhasil menuntaskan proyek jembatan lengkung terpanjang, kiprahnya telah mewarnai dunia konstruksi. Jembatan yang telah dirancangnya di antaranya: Jembatan Pedamaran 1 dan 2 di Riau, Jembatan Kereta Api Cirebon – Kriya, Jembatan Perawang di Riau, Jembatan Kali Kuto, Semarang, serta Jembatan Layang khusus Busway ruas Adam Malik di Jakarta.

Menukil kisah di belakang kesuksesannya, saat merancang jembatan lengkung LRT di atas flyover Kuningan, Dina sebenarnya harus bersaing dengan insinyur lain. Tidak sembarangan, saingannya seorang konsultan asal Perancis. Singkat cerita, BUMN konstruksi, Adhi Karya lebih memilih rancangan dari lulusan ITB 1989 ini. Direktur Utama PT Adhi Karya(Persero) Tbk Budi Harto mengatakan, rancangan milik Arvila dipilih karena paling memungkinkan dan efisien.

Sedikit membahas, rancangan saingan, yang dibuat konsultan Perancis itu menggunakan steelboxgifer dengan metode incremental launching, cable stayed, concentrate box gorder balanced contilever dengan kolom di tengah.

Untuk yang mengikuti perkembangan dunia perjembatanan mungkin sudah tidak asing lagi dengan namanya. Tamatan S-2 Geoteknik ITB ini telah berkarier selama hampir 20 tahun di dunia pembuatan jembatan.

Sempat diremehkan

Ihwal keterlibatan Dina pada proyek LRT Jabodebek, proyek ini telah memiliki beberapa konsultan perencana yang berasal dari Prancis, ITB dan ITS. Kehadiran Dina menjadi inisiasi Project Manager, Ujang, dalam upaya percepatan pengerjaan.

Melalui perusahaan konsultan PT Cipta Graha Abadi, Arvila mulai pengerjakan perhitungan desain yang telah tersedia dari kosultan Prancis, Systra. Rencana pengerjaan dari konsultan Prancis, terdapat tiga opsi yang semuanya memanfaatkan pier atau tiang di tengah lengkungan.

Merasa tidak cocok dengan opsi yang tersedia, Dina memberanikan diri memberikan opsi yang keempat. Tentu dengan dasar argumentasi yang kuat, opsi ini berbeda dengan tiga opsi awal. Opsi yang ditawarkannya dengan membangun longspan 148 meter tanpa pier

Ide alumni SMA 3 Bandung ini lantas disanksikan seorang konsultan asal Jepang. Mustahil dan sulit dilakukan. Kalau toh bisa disambung tanpa tiang, kontraktor PT Adhi Karya tidak akan bisa. 

“Tapi saya berkeyakinan bahwa setiap jembatan memang punya risiko, ya, masing-masing. Tapi selama perhitungannya tepat saya yakinkan bahwa itu bisa dilakukan,” ucapnya, dikutip dari sindonews.com (21/11).

Berusaha meyakinkan, Dina mengungkapkan longspan perempatan Kuningan justru sulit dipasang dengan pier karena di bawah jembatan lengkung terdapat dua ruas jalan yang saling berimpitan, yaitu: Jalan Gatot Subroto dan tol layang dalam kota. Alasan keamanan saat bencana yang menjadi titik beratnya. Menurutnya, jalan yang berimpitan itu kalau dibangun fondasi untuk pier bisa rawan getaran kalau sewaktu-waktu ada gempa kecil.

“Makanya saya berkeyakinan dibangun saja tanpa tiang di tengah. Tentu perhitungannya harus tepat dengan menambah banyak gaya dalam perhitungannya,” jelasnya. 

Pada diskusi tersebut, konsultan asal Prancis belum terlalu yakin dengan argumentasinya. “Apakah sebelumnya pernah merancang jenis bangunan yang sama?” tutur konsultan Prancis. Dengan lugas, Dina menunjukkan proyek Jembatan Lingkar Semanggi yang dibangun semasa kepemimpinan Basuki Thajaja Purnama atau Ahok. Menurutnya tingkat kesulitannya kurang lebih sama. 

Menurut wanita 49 tahun itu, setiap enjiner tak pernah bisa meremehkan pembangunan atau perencanaan suatu struktur atau bangunan jembatan sekalipun. Jika alasannya berbahaya dan penuh risiko, seharusnya semua pembangunan jembatan punya risiko sendiri-sendiri. 

“Jadi waktu itu saya lawan argumen dari konsultan Jepang. Saya meyakinkan bahwa bisa pasang bentangan tanpa tiang dan alhamdulillah, dengan perhitungan matang, semua berjalan sesuai rencana,” sambungnya.

Tidak bercita-cita jadi Insinyur 

Seperti anak kebanyakan, ia ingin bercita-cita menjadi guru atau pilot. Namun, sejak SMA atas ia kerap mendapat motivasi dari sang ibu. Berkaca dari ibunya yang hanya berpendidikan SMA, Dina remaja bersemangat untuk dapat menuntut ilmu hingga Strata Dua. Untuk mencapai tujuannya tersebut, ibunya juga berpesan agar ia dapat bekerja untuk terus melanjutkan studinya.

Memiliki ayah seorang tentara, putri dari Mayor Jenderal TNI Purnawirawan Purwantono ini saat masih kecil sering berpindah-pindah mengikuti dinas sang ayah. Namun, sejak usia empat tahun, wanita kelahiran Tebing Tinggi Sumatra Utara ini menetap di Bandung. Hingga saat ini, Dina tetap tinggal di Kota Kembang.

Ingin mengabdi di usia senja

Sering mengunjungi pulau-pulau di Indonesia, Dina mempunyai cita-cita untuk berkontribusi bagi kehidupan warga yang dibatasi oleh sungai atau laut.

“Saya kadang risih, Mas. Kalau ada anak sekolah yang sampai harus menyeberang melewati sungai berenang dan memakai ban bekas. Kalau mungkin sudah tua nanti saya bersedia menyiapkan desainnya dan mencarikan pendanaannya,” katanya, yang juga dikutip dari wawancara sindonews.com (21/11).


Dari banyak proyek yang pernah dikerjakan wanita kelahiran 23 April 1970 ini, terdapat salah satu jembatan yang menurutnya punya nilai besar bagi kemaslahatan umat, yaitu Jembatan Pedamaran I dan Pedamaran II di Bagan Siapi-api di Rokan Hilir. 

Ia mengenang sulitnya membangun jembatan tersebut karena jembatan itu melintasi dua sungai sekaligus.

“Bagaimana masyarakat di sana. Sementara kapal feri tidak ada yang mau lewat situ karena harus memutari dua sungai. Bayangkan dari dua hari perjalanan dengan adanya jembatan ini, hanya bisa ditempuh selama enam jam,” kenangnya. 

Passion dan nilai manfaat

Dina merasa dari pekerjaannya memberi manfaat bagi banyak orang. “Saya benar-benar melihat bahwa jembatan itu the real connecting people. Kalau ke daerah-daerah yang jauh di pelosok, saya bisa melihat kalau orang-orang yang tadinya naik kapal, akhirnya bisa dengan mudah menyeberangi sungai-sungai ganas lewat jembatan, di situlah passion saya,”tuturnya saat mengisi acara Indonesian Womens Forum (22/11).

Arvila merasa beruntung bahwa ia hidup di lingkungan yang sangat suportif dan mampu memfasilitasi kehidupannya sebagai seorang ibu, termasuk rekan kerjanya yang pria. Ia memberi contoh pada suatu saat ketika anaknya masih dalam masa menyusui, pemimpin rapat, berkata “Kita break dulu, ya, rapatnya, ini Ibu mau menyusui.” Saat itu ia sedang membawa anaknya ikut rapat, dan si anak menangis. 

Jika ditarik lebih jauh, orang pertama yang memberikan dukungan untuknya terjen ke bidang desain jembatan juga adalah seorang laki-laki Ir. Jodi Firmansyah, MSE., Ph.D, dosennya di ITB. Sempat ragu karena memikirkan keluarga di rumah, ibu dua anak ini akhirnya berani mengambil tantangan. Sang dosen memotivasi bahwa wanita pasti mampu berkomitmen dan membagi prioritas

Bersiap untuk Karya Selanjutnya

Jejak karya Dina sepertinya akan terus meluas. Dari informasi yang berkembang, wanita berkerudung ini tengah menyiapkan desain jembatan lengkung di Teluk Balikpapan. Pembangunan jembatan lengkung ini akan menghubungkan Balikpapan dengan wilayah Ibu Kota Negara (IKN) baru. Yang lebih fantastis, kali ini, desain bentang tanpa tiang yang dibuatnya hampir 500 meter!

Sumber foto: detikcom