/Kementerian PUPR Prioritaskan Pembangunan dan Pemeliharaan Jalan Nasional

Kementerian PUPR Prioritaskan Pembangunan dan Pemeliharaan Jalan Nasional

Jakarta – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menerapkan kebijakan optimalisasi, pemeliharaan, operasi, dan rehabilitasi (OPOR) untuk jalan nasional sepanjang 47.017 kilometer pada 2022. Hal tersebut ditujukan untuk menjaga kinerja jalan nasional sebagai tulang punggung logistik.

Danis Hidayat Sumadilaga selaku Widyaiswara Utama Kementerian PUPR menyampaikan bahwa pemerintah tetap memprioritaskan pembangunan dan pemeliharaan jalan nasional. 

“Sebagai contoh pada jalan lintas timur di Provinsi Sumatera Selatan, preservasi dilaksanakan melalui kerja sama pemerintah dengan badan usaha dengan skema availability payment (KPBU-AP) yang menjadi proyek KPBU pertama di jalan non-tol berbasis kinerja,” ujarnya dalam acara Investor Daily Summit 2021 yang disiarkan secara virtual, Selasa (13/7).

Danis juga menjelaskan, untuk jalan Trans-Papua di Papua Barat telah dibangun jalan sepanjang 1.116,8 kilometer yang menghubungkan Sorong-Manokwari sepanjang 594 kilometer, dan Manokwari-Windesi-Perbatasan Provinsi Papua sepanjang 521 kilometer yang saat ini telah tembus seluruhnya. 

“Sedangkan di Provinsi Papua dibangun sepanjang 2.345 km dimana telah tembus sepanjang 2.329 km dan menyisakan 16 km yang belum tembus. Dari jalan yang sudah tembus, sudah ter aspal sepanjang 977 km dan belum teraspal sepanjang 1.352 km,” jelasnya.

Selain jalan nasional, Kementerian PUPR juga menyampaikan beberapa jembatan penting mulai dioperasikan, diantaranya adalah Jembatan Teluk Kendari di Sulawesi Tenggara. Jembatan tersebut dibangun untuk mendukung pengembangan wilayah Kota Kendari bagian Selatan dan Pulau Bungkutoko yang akan dikembangkan menjadi kawasan industri, Kendari New Port, dan kawasan permukiman baru yang merupakan pengganti dari kawasan pelabuhan di Kota Lama. 

Jembatan penting lainnya yang segera dirampungkan proses konstruksinya, yakni Jembatan Sei Alalak di Kalimantan Selatan. Jembatan tersebut diproyeksikan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi kawasan di sekitarnya karena melewati area perkebunan dan pertambangan. 

“Dengan segenap upaya yang dilakukan diatas, diharapkan dapat meningkatkan indikator waktu tempuh, yaitu 2,18 jam /100 km pada 2021 Sedangkan pada 2024 ditargetkan mencapai 1,9 jam/100 km. Peningkatan dalam waktu tempuh ini sasaran waktu terukur dalam rata-rata nasional,” pungkasnya.