/Segera Hindari, Rasa Kesepian Picu 5 Risiko Kesehatan

Segera Hindari, Rasa Kesepian Picu 5 Risiko Kesehatan

Jakarta – Hampir semua orang mengalami masa kesepian dalam menjalani aktivitas nya, kondisi sementara ini dapat disebabkan oleh perubahan hidup seperti lokasi baru ataupun pekerjaan baru. Namun untuk sebagian besar orang rasa kesepian ini merupakan cara hidup yang bukan berasal dari jumlah orang di sekitar mereka namun kurang nya koneksi kepada orang lain.

Rasa kesepian yang berkepanjangan ini mendapat perhatian lebih dari beberapa ilmuwan, berdasarkan penelitian rasa kesepian ‘kronis’ ini dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Para ilmuwan masih meneliti hubungan antara kesehatan mental dan fisik serta bagaimana kesepian mempengaruhi tubuh. Dari beberapa hasil penelitian para ilmuwan dapat diperoleh hasil sebagai berikut ;

Kesepian Memicu Rasa Sakit Fisik

Dr. Sanjay Gupta dalam kutipannya di sebuah kolom O Magazine menjelaskan bahwa merasa diasingkan dapat mendorong kita ke batas sosial, hingga menyebabkan kesepian, dan memicu aktivitas di beberapa daerah otak yang memicu rasa sakit fisik. Penelitian ini sendiri dipimpin oleh Profesor Psikologi Sosial di UCLA, Naomi Eisenberger.

“Dari perspektif evolusi, ini masuk akal. Leluhur kita bergantung pada kelompok sosial tidak hanya untuk persahabatan, melainkan bertahan hidup. Tinggal dekat dengan suku membawa akses ke tempat berteduh, makanan, dan perlindungan. Pemisahan dari kelompok, di sisi lain, berarti bahaya,”jelas Gupta dalam kutipannya di O Magazine

Gupta juga menjelaskan tubuh kita bisa saja merasakan ancaman terhadap kelangsungan hidup saat merasa tersisih. Selain itu tubuh juga dapat memberikan sinyal rasa sakit serupa akan terlibat juka kita berada dalam bahaya fisik nyata.

“Dalam kesepian kronis, kadar hormon stres kortisol meningkat lebih tinggi di pagi hari, daripada mereka yang lebih terhubung secara sosial, dan tidak sepenuhnya kesepian di malam hari.”jelas Gupta

Kesepian Menimbulkan Rasa Sulit Tidur

Dalam studi kasus yang dilakukan pada tahun 2011 lalu, fakta menunjukan orang-orang yang kesepian akan mengalami lebih banyak gangguan tidur malam dibandingkan dengan orang yang tidak kesepian. Para meneliti menjelaskan keterhubungan antara gangguan tidur dan kesepian ini tetap dialami meskipun telah berkeluarga.

Hal ini menunjukan rasa kesepian dapat tergantung dari bagaimana orang memandang situasi sosial mereka daripada situasi itu sendiri. Dari total 95 partisipan dalam penelitian ini, hampir semuanya mempunyai hubungan sosial yang kuat, namun dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa perbedaan kecil dalam tingkat kesepian pun tercermin dari tidur mereka.

Kesepian Dapat Meningkatkan Risiko Demensia

Pada Studi yang telah dilakukan pada tahun 2012 lalu terhadap 2.200 orang dewasa di Amsterdam, Belanda, ditemukan bahwa orang yang mengalami kesepian lebih mungkin mengalami demensia daripada mereka yang tidak kesepian.

Demensia sendiri merupakan penyakit yang mengakibatkan penurunan daya ingat dan cara berpikir. Hampir setengah dari 2.200 orang yang mengikuti studi kasus ini hidup sendirian dan 20% diantaranya mengalami kesepian. Setelah penyesuaian dari faktor usia, para peneliti menemukan fakta bahwa kesepian dapat memicu peningkatan risiko demensia sebesar 64%

Kesepian Dapat Memicu Risiko Kematian Dini

Dalam dua studi kasus pada tahun 2012 ditemukan fakta bahwa merasa kesepian dapat meningkatkan risiko kematian dini. Penelitian yang mengikutsertakan 45.000 orang berusia 45 tahun keatas dengan mempunyai riwayat penyakit jantung atau yang berisiko tinggi akan penyakit tersebut mendapati bahwa hidup sendiri lebih mungkin meninggal dunia karena serangan jantung, stroke maupun komplikasi lainnya dibandingkan dengan mereka yang memiliki keluarga.

Pada studi kedua yang dilakukan selama 4 tahun dengan fokus pada orang berusia 60 tahun keatas. Dalam penelitian kedua ini mendapatkan hasil 45% orang kesepian lebih memungkinkan meninggal selama periode tersebut.

Kesepian Dapat Menghancurkan Jantung

Orang-orang yang mengalami masa kesepian ‘kronis’ biasanya memiliki ekspresi berlebih dari gen yang terhubung kepada sel yang menghasilkan respon inflamasi kerusakan jaringan. Hal tersebut berdasarkan penelitian yang dilakukan pada tahun 2011 kepada 93 orang dewasa. Respon inflamasi ini sebenarnya cukup baik untuk jangka pendek namun inflamasi pada jangka panjang akan memicu penyakit jantung dan kanker.

Di dalam studi kasus ini, hanya ditemukan hubungan antara ekspresi gen dan juga kesepian, sehingga sulit dipastikan terkait dengan pemicu antara satu sama lainnya.