/Vacuum Consolidation Method, Inovasi Untuk Solusi Percepatan Konstruksi JTTS

Vacuum Consolidation Method, Inovasi Untuk Solusi Percepatan Konstruksi JTTS

PT Hutama Karya (Persero) terus fokus dalam penggarapan proyek Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS) yang secara total memiliki panjang 2.765 km. Setelah peresmian JTTS ruas Terbanggi Besar – Pematang Panggang – Kayu Agung sepanjang 189 km, BUMN konstruksi ini menyasar penyelesaian ruas tol lainnya hingga total 24 ruas dapat rampung dan tersambung pada 2024 mendatang.

“Panjang keseluruhan ruas tol Pekanbaru – Dumai 131 km yang terbagi menjadi 6 seksi, dengan progres pembangunan konstruksi rata-rata mencapai 77 persen. Seksi 1 sepanjang 9,50 km insya Allah bisa selesai akhir tahun 2019 ini,” jelas Fauzan, Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, mengomentari target-target lanjutan, yang dikutip dari keterangan media di hutamakarya.com (2/12).

Dalam upaya percepatan penyelesaian pelaksanaan konstruksi, serta menilik dari segi efektivitas dan efisiensi pekerjaan dan kondisi area kerja di lapangan, banyak inovasi teknologi dan metode konstruksi yang diterapkan dalam penuntasan proyek nasional ini. Salah satu teknologi yang cukup menyita perhatian dalam penerapannya adalah teknologi Vacuum Consolidation Method (VCM). Teknologi ini sukses diterapkan pada proyek Palembang-Indralaya (Palindra). VCM membuat proses pekerjaan lebih efisien secara waktu sehingga proyek jalan sepanjang 22 km dapat terselesaikan dengan baik.

Belum lama ini, penerapan metode VCM mendapat apresiasi dari para pengunjung Conference of ASEAN Federation of Engineering Organisations (CAFEO) ke-37 di Jiexpo Kemayoran, Jakarta (14/11), seperti dikutip oleh detik.com.  Hutama Karya sebagai kontraktor yang menerapkan metode ini mendapatkan sambutan hangat dari pengunjung atas penjelasan yang dipamerkan terkait dengan VCM. 

“Proyek yang sangat besar dan menakjubkan. Brunei tidak pernah punya kesempatan untuk mengembangkan proyek sebesar ini. Saya sampai datang dua kali untuk berbicara tentang metode paving jalan tol dengan metode VCM,” ujar engineer asal Brunei Darussalam, yang dikutip dari keterangan resmi Hutama Karya, Rabu (18/9).

Teknologi VCM diterapkan untuk mengurangi kadar air dan udara yang terdapat di tanah. Dalam proses penggarapan lahan biasanya ditemui kendala jenis tanah gambut dan rawa. VCM dapat menjadi pemecahan persoalan tersebut. Teknologi VCM diterapkan guna mengurangi kadar air maupun kadar udara yang ada di tanah. Pasalnya sebagian besar wilayah yang terbentang di Sumatera didominasi oleh tanah gambut dan rawa.

“Hanya dibutuhkan 3-4 bulan untuk memvakum lahan rawa, kemudian pada bulan ketiga sudah bisa dilakukan penimbunan pada bagian atasnya,” ungkap Hasan Turcahyo, Manajer Proyek Tol Palindra (9/4/2018), dikutip dari okezone.com.

VCM merupakan penyedot vakum ke dalam massa tanah yang terisolasi untuk mengurangi tekanan atmosfer dan tekanan air pori di dalam tanah, sehingga dapat mempercepat proses penurunan dan pemadatan lapisan tanah dalam waktu singkat. 

Teknologi ini menawarkan banyak kelebihan seperti meminimalisasi sumber daya dan penggunaan alat berat, mengurangi risiko ketidakstabilan lereng karena penurunan tanah yang dihasilkan bersifat isotropic. Secara teknis, kelebihan lain teknologi ini yaitu memiliki hambatan yang rendah terhadap efektivitas pekerjaan secara keseluruhan serta dapat dikerjakan secara overlap dengan pekerjaan lainnya. Tak kalah penting, metode ini sangat ramah lingkungan karena perbaikan tanah bersifat otomatis tanpa menggunakan bahan-bahan kimia.

Secara efisiensi waktu. Dengan sistem VCM proses penurutan tanah dapat dilakukan lebih cepat yaitu sekira empat bulan, jika dibandingkan dengan metode konvensional seperti penerapan sistem drainase vertical melalui Perforated Vertical Drain (PVD) dapat memakan waktu hingga satu tahun.

Pada kasus pengerjaan Tol Palindra metode ini cocok diterapkapkan karena karakteristik lahan banyak air. VCM mempercepat konsolidasi tanah serta turut memperbaiki tanah lunak di bawah jalan. Cara kerjanya dimulai dengan membuat tekanan negatif di tanah lunak dengan menanam vertikal drain. Untuk satu zona dibutuhkan 30 ribu vertikal drain. selanjutnya ditutup dengan geomembran. Langkah selanjutnya, pompa atmosfer difungsikan dengan tekanan 80 kilo pascal selama 100 hari. Pompa dipasang di sepanjang jalan dan dihidupkan selama 100 hari.

Apabila tanah lunak lebih dangkal, maka proses pelaksanaan vacum bisa lebih cepat. Setelah proses vakum, dalam waktu tiga bulan penurunan tanah sudah bisa maksimum. Biasanya 10 persen dari tanah lunak. Keunggulan lainnya, setelah proses vakum, lokasi sudah bisa ditimbun setelah selama tiga minggu dipompa. Apabila telah mencapai konsolidasi maksimum, timbunan permanen bisa segera diselesaikan.

VCM memiliki keunggulan di berbagai aspek, seperti dapat menjadi pemecahan masalah untuk pekerjaan di tanah rawa atau gambut serta memenuhi nilai-nilai efektivitas dan efisiensi secara alat dan waktu pengerjaan.

Sejarah 

Teknologi ini ditemukan pertama kali oleh Gilmann, seorang Swedia pada 1952. Pada awal penemuannya, VCM dianggap tidak ringkas dalam pengerjakan sehingga banyak praktisi yang enggan menerapkannya. Jika melihat proses pengerjaannya, tentu orang awam akan langsung mengamininya. Bayangkan, setiap satu zona setidaknya pekerja harus menanam 30 ribu titik vertical drain. Belum lagi fungsi pengawasan harus dilakukan secara ketat karena terdapat proses menutup dengan geomembran yang tidak boleh bocor selama 3-4 bulan. Namun, di balik ketatnya setiap tahapan proses, VCM memberikan manfaat bukan hanya pada proses pengerjaan, tapi juga pasca pengerjaan karena hasil yang optimal.

Tiongkok telah akrab dengan teknologi ini sejak 1960. Negara Tirai Bambu telah mencapai hasil penerapan sempurna VCM  pada 1980. Saat ini, VCM telah menghasilkan beribu-ribu jalan di negara dengan populasi terbesar di dunia itu.

Sumber foto: hutamakarya.com